Rabu, 25 Maret 2009

Mumtaz Rais, Masyarakat Bosan dengan 4L

Yogyakarta- Saat ini merupakan momentum yang tepat bagi anak-anak muda untuk bangkit dan tampil memimpin bangsa. Karena, selama ini, para senior di jajaran pemerintah sudah susah mendengar atau melaksanakan aspirasi rakyat. Maka perlu tokoh muda yang peduli terhadap rakyat.
Begitulah pendapat Ahmad Mumtaz Rais–anak seorang penggagas reformasi dan pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais–ketika berbincang-bincang dengan SH di rumahnya, Kamis (21/8).
“Kami juga melihat ada kecenderungan di masyarakat sudah bosan dengan para senior yang selalu itu-itu saja yang tampil. 4 L, lu lagi, lu lagi,” kata Mumtaz yang kini masih berusia 24 tahun.
Mumtaz memang genap setahun ini lulus dari Fakultas Ekonomi UGM. Namun ia telah berani terjun ke kancah dunia politik dengan menjadi calon legislatif dari PAN. “Ada perasan bangga karena bisa mewakili kawula muda sekaligus menjaga nama baik kaum muda yang bisa diandalkan sebagai penerus memimpin bangsa,” ungkap Mumtaz, anak ketiga dari 5 bersaudara ini.
Baginya, maju sebagai caleg adalah sebuah pilihan untuk bisa menyuarakan aspirasi rakyat lapisan bawah. Dan ini sesuai dengan petuah ayahnya yang selalu menekankan untuk menggunakan kemampuannya demi mengabdi pada rakyat.
Mumtaz merasa cukup berpengalaman di bidang politik. Dia mengakui, dirinya sudah berkiprah di politik sejak duduk di bangku SMP dengan bergabung di PAN. Dia juga rajin ikut diskusi politik dan kini dirinya menjabat sebagai Wakil Ketua Barisan Muda PAN.
“Saya juga selalu belajar politik dari bapak. Dari setiap gerak-gerik bapak, saya selalu mencoba untuk mendalami. Demikian juga dengan petuah yang diberikan oleh bapak. Selain itu saya juga belajar dari buku dan melakukan kontak dengan konstituen,” kata Mumtaz.
Mumtaz mengakui tak mudah untuk bisa mewujudkan keinginannya menjadi anggota DPR RI. Pasalnya, ia mencalonkan diri dari dapil di daerah Cilacap, Banyumas. PAN belum besar di situ. Pada pemilu 2004, PAN hanya mendapoat 1 kursi dan menduduki peringkat 4.
Namun, ini justru menjadi tantangannya karena akan penuh perjuangan, mengingat daerah tersebut merupakan basis PDIP dan Golkar dan ia juga harus “bertarung” dengan Budiman Sudjatmiko. Dengan kata lain, Mumtaz tak ingin kemudian dicap sebagai anggota DPR karbitan jika nantinya terpilih.
Di dada pemuda ini, juga ada keinginan kalau terpilih untuk mengubah citra DPR yang selama ini merosot karena banyaknya oknum yang terkena kasus suap. “Salah satu agenda saya adalah untuk mengubah citra wakil rakyat yang selama ini sudah dinodai oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya harus mengubah citra itu dengan kehadiran saya yang masih muda,” katanya.
Mumtaz mengakui nama besar ayahnya tentu akan berpengaruh pada dirinya. Dan ini justru menjadi cambuk baginya untuk bisa sukses dan bisa meraih tempat yang sejajar dengan ayahnya, Amien Rais.
“Nama besar ayah justru menjadi motivator, bukan malah menjadikan saya kurang pede (percaya diri),” kata Mumtaz.
(yuyuk sugarman)

Copyright © Sinar Harapan 2008


Dikutip dari Sinar Harapan 2008.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0808/23/pol02.html