Jakarta - Bukan Ahmad Hanafi, bukan pula Hanum Salsabiela. Tapi Ahmad Mumtaz yang menjadi penerus Amien Rais dalam kancah politik praktis. Ahmad Mumtaz maju sebagai calon legislatif (caleg) dari Partai Amanat Nasional) dalam Pemilu 2009.
Informasi yang didapatkan detikcom, Selasa (19/8/2008), nama Ahmad Mumtaz sudah masuk dalam daftar caleg dari Dapil VIII (Cilacap dan Banyumas) yang telah ditandatangani Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir dan Sekjen PAN Zulkifli Hasan. Nama Mumtaz dan ratusan caleg dari PAN akan diserahkan ke KPU hari ini.
"Kemungkinan daftar caleg akan didaftarkan ke KPU sore hari nanti. Sekarang Mas Tris (Soetrisno Bachir-red) masih sibuk menandatangani berkas-berkas. Baru sebagian berkas yang sudah ditandatangani, karena banyak sekali," ujar Adang Durahman, tim humas DPP PAN.
Sebelumnya Ahmad Hanafi Rais, anak pertama Amien Rais, yang disebut-sebut akan maju sebagai caleg dari PAN. Namun, Hanafi yang lulusan Fisipol UGM dan bergelar magister dari Singapura itu lebih memilih meneruskan kuliah ke jenjang doktoral daripada terjun ke politik praktis.
Ahmad Mumtaz sendiri merupakan alumnus Fakultas Ekonomi UGM. Saat ini Mumtaz berumur 23 tahun, masih lajang. Bisa jadi, Mumtaz merupakan caleg termuda di PAN. Namun, Mumtaz masih kalah muda dengan caleg termuda dari PDIP, Melissa Jonathan, yang baru berumur 21 tahun.
Majunya Mumtaz membuat daftar anak tokoh politik yang maju sebagai caleg semakin panjang. Di PAN, selain Mumtaz, juga ada anak AM Fatwa, Ikrar Fatahillah, yang maju sebagai caleg dari dapil Jawa Barat X.
Di jajaran partai politik lain, sejumlah anak tokoh politik juga menjadi caleg. Edhie Baskoro (anak SBY) maju dari Partai Demokrat, Puan Maharani (anak Megawati) maju dari PDIP, Dave Laksono (anak Agung Laksono) maju dari Partai Golkar, Putra Nababan (anda Panda Nababan) dari PDIP, dan lain-lain. Sementara putri Gus Dur, Zanuba Arifah Chafsoh alias Yenny belum terdaftar sebagai caleg di PKB pimpinan Muhaimin Iskandar. (asy/asy)
http://www.detiknews.com/read/2008/08/19/070020/990509/10/ahmad-mumtaz-penerus-amien-rais-di-politik-praktis
